Banyak pelaku UMKM mulai mempertimbangkan beralih dari tarif PPh final 0,5% ke tarif PPh umum. Alasannya beragam. Ada yang ingin lebih fleksibel dalam menghitung pajak, ada juga yang ingin mengakui biaya usaha secara penuh.
Namun, ada satu hal penting yang sering terlewat.
Anda tidak bisa langsung menggunakan tarif PPh umum, meskipun sudah memiliki Surat Keterangan (Suket) PP 55/2022. Anda tetap harus melalui satu langkah administratif yang krusial: melapor ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Jika langkah ini diabaikan, konsekuensinya tidak sederhana.
Tidak Bisa Langsung Pindah Skema Pajak
Banyak wajib pajak mengira mereka bebas memilih skema pajak kapan saja. Padahal, aturan tidak bekerja seperti itu.
Berdasarkan penjelasan dari otoritas pajak, wajib pajak yang ingin beralih dari skema PPh final UMKM ke tarif umum wajib menyampaikan pemberitahuan secara resmi ke DJP.
Artinya, keputusan berpindah skema bukan sekadar pilihan pribadi. Anda harus memberi tahu DJP terlebih dahulu, dan prosesnya harus dilakukan secara administratif.
Tanpa pemberitahuan tersebut, DJP tetap menganggap Anda menggunakan skema PPh final.
Harus Lapor Sebelum Tahun Pajak Berakhir
Selain wajib melapor, ada batas waktu yang perlu Anda perhatikan.
DJP menetapkan bahwa pemberitahuan penggunaan tarif PPh umum harus Anda sampaikan paling lambat sebelum akhir tahun pajak berjalan.
Jika Anda melewati batas ini, maka perubahan baru akan berlaku di tahun berikutnya.
Dengan kata lain, timing menjadi sangat penting. Anda tidak bisa mendadak mengganti skema di tengah jalan tanpa prosedur yang jelas.
Selama Belum Efektif, Tetap Pakai PPh Final
Ini poin yang sering menimbulkan kesalahpahaman.
Meskipun Anda sudah berniat beralih ke tarif umum, selama pemberitahuan belum efektif, Anda tetap harus menjalankan kewajiban sesuai skema lama.
Artinya:
- Anda tetap harus membayar PPh final UMKM setiap bulan
- Anda tetap menggunakan tarif 0,5% dari omzet
DJP menegaskan bahwa kewajiban tersebut tetap berlaku sampai perubahan resmi berjalan. Jadi, jangan berhenti setor pajak hanya karena Anda ingin berpindah skema.
Perubahan Skema Berarti Perubahan Cara Hitung Pajak
Saat Anda beralih ke tarif PPh umum, cara menghitung pajak akan berubah secara signifikan.
Jika sebelumnya Anda hanya menghitung pajak dari omzet (0,5%), maka pada skema umum Anda harus:
- Menyusun pembukuan usaha
- Menghitung penghasilan neto
- Mengakui biaya dan beban usaha
- Menggunakan tarif progresif PPh
Perubahan ini memang memberi keuntungan, terutama bagi usaha yang memiliki banyak biaya. Namun di sisi lain, administrasinya juga menjadi lebih kompleks.
Soal Kerugian, Tidak Bisa Sembarangan
Ada satu hal penting yang sering tidak disadari oleh wajib pajak.
Jika Anda masih berada dalam skema PPh final, maka kerugian usaha tidak bisa dikompensasikan ke tahun berikutnya.
Berbeda dengan skema tarif umum, di mana Anda bisa membawa kerugian fiskal hingga beberapa tahun ke depan.
Namun, ada catatan penting. Kerugian hanya bisa dikompensasikan jika berasal dari penghasilan yang tidak dikenai PPh final.
Inilah salah satu alasan mengapa banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan beralih ke tarif umum.
Wajib Pisahkan Pembukuan
Saat Anda menjalankan dua jenis penghasilan—yang dikenai PPh final dan yang menggunakan tarif umum—Anda harus membuat pembukuan secara terpisah.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Pembukuan terpisah membantu Anda:
- Menghindari kesalahan perhitungan pajak
- Memastikan kepatuhan administrasi
- Menghindari potensi sengketa pajak
DJP secara tegas meminta wajib pajak untuk memisahkan pencatatan tersebut agar pelaporan tetap akurat.
Jangan Sampai Salah Langkah
Peralihan dari PPh final ke tarif umum memang terlihat sederhana. Namun dalam praktiknya, banyak wajib pajak yang melakukan kesalahan.
Sebagian langsung menggunakan tarif umum tanpa melapor. Sebagian lagi berhenti membayar PPh final karena merasa sudah beralih.
Padahal, langkah seperti ini justru berisiko menimbulkan masalah di kemudian hari.
Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memahami prosedur secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.
