Penghasilan bukan objek pajak sering dianggap tidak penting saat lapor SPT Tahunan. Padahal, Anda tetap harus mencantumkannya agar laporan pajak terlihat lengkap dan konsisten.
Banyak wajib pajak hanya fokus pada penghasilan kena pajak. Akibatnya, mereka melewatkan informasi penting yang justru bisa memicu pertanyaan dari otoritas pajak.
Karena itu, Anda perlu memahami jenis penghasilan ini sejak awal.
Kenapa Anda Tetap Harus Melaporkannya?
SPT Tahunan tidak hanya berfungsi untuk menghitung pajak. Anda menggunakan SPT untuk menggambarkan seluruh kondisi keuangan secara utuh.
Anda perlu menunjukkan semua sumber penghasilan, baik yang kena pajak maupun yang tidak.
Dengan cara ini, DJP bisa melihat profil keuangan Anda secara menyeluruh. Selain itu, Anda juga bisa menghindari kesan bahwa ada penghasilan yang “tidak dilaporkan”.
Apa Saja Penghasilan yang Bukan Objek Pajak?
Beberapa jenis penghasilan memang tidak masuk objek pajak. Namun, Anda tetap harus mencatatnya.
Anda bisa menerima hibah dari keluarga sedarah, seperti orang tua kepada anak. Selama tidak terkait usaha, Anda tidak perlu membayar pajak atas penghasilan ini.
Selain itu, Anda juga bisa menerima warisan. Negara tidak mengenakan pajak atas warisan, tetapi Anda tetap harus melaporkannya.
Kemudian, Anda mungkin menerima bantuan atau sumbangan, termasuk zakat dari lembaga resmi. Penghasilan ini juga tidak dikenakan pajak.
Di sisi lain, setoran modal ke dalam usaha tidak termasuk penghasilan kena pajak. Namun, Anda tetap perlu mencatatnya dalam laporan.
Cara Melaporkan di SPT Tahunan
Anda bisa melaporkan penghasilan ini dengan mudah melalui sistem Coretax.
Pertama, Anda isi bagian penghasilan dalam SPT. Setelah itu, Anda pilih kategori penghasilan bukan objek pajak.
Selanjutnya, Anda masukkan jenis dan jumlah penghasilan sesuai kondisi sebenarnya.
Dengan langkah ini, Anda bisa memastikan data yang Anda laporkan sudah lengkap dan akurat.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Banyak wajib pajak mengabaikan penghasilan non-objek pajak. Mereka menganggap tidak ada kewajiban untuk melaporkannya.
Selain itu, sebagian orang mencampur data penghasilan dalam satu kategori. Hal ini membuat laporan menjadi tidak jelas.
Ada juga yang tidak mencatat nilai penghasilan secara detail. Akibatnya, data dalam SPT tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Kenapa Anda Harus Lebih Teliti?
Anda bisa menghindari berbagai risiko jika melaporkan data secara lengkap.
Pertama, Anda mengurangi potensi klarifikasi dari DJP.
Selain itu, Anda menjaga konsistensi antara penghasilan dan harta.
Di sisi lain, Anda juga membangun reputasi sebagai wajib pajak yang patuh.
Semua ini akan membantu Anda dalam jangka panjang.

