Site icon

Coretax dan Wajib Pajak: Antara Harapan Digitalisasi dan Kenyataan di Lapangan

kesulitan wajib pajak coretax

Sebagai wajib pajak, saya memahami bahwa digitalisasi perpajakan adalah sebuah keniscayaan. Dunia bergerak cepat, transaksi semakin kompleks, dan negara membutuhkan sistem yang mampu mengikuti ritme tersebut. Kehadiran Coretax—sebagai tulang punggung baru administrasi perpajakan—pada dasarnya adalah langkah maju yang patut diapresiasi oleh kita semua.

Namun, menjelang persiapan pelaporan SPT Tahunan Tahun Pajak 2025, ada satu kegelisahan yang rasanya juga dirasakan oleh banyak wajib pajak lain: mengapa mempelajari dan mengimplementasikan Coretax terasa begitu sulit?

Tulisan ini bukan keluhan emosional, apalagi penolakan terhadap perubahan. Ini adalah suara dari sisi pengguna—dari wajib pajak—yang berada di garis depan implementasi kebijakan.

Coretax di Atas Kertas: Terintegrasi dan Menjanjikan

Secara konsep, Coretax menawarkan sistem yang terintegrasi, berbasis data, dan diharapkan mampu:

Bagi negara, ini adalah lompatan besar.
Bagi aparat pajak, ini adalah instrumen pengawasan yang lebih presisi.

Namun bagi wajib pajak, Coretax bukan sekadar sistem. Ia adalah alat kerja baru yang harus dipahami, dipelajari, dan digunakan secara benar—di tengah keterbatasan waktu, sumber daya, dan pemahaman teknis.

Kesulitan Nyata di Level Wajib Pajak

Masalah utama bukan pada niat, melainkan pada kesiapan praktis.

Banyak wajib pajak—baik orang pribadi maupun badan—mengalami kendala seperti:

Bagi wajib pajak kecil dan menengah, Coretax terasa seperti “bahasa baru” yang harus dipelajari sendiri. Tidak semua memiliki konsultan pajak. Tidak semua memiliki staf khusus. Pada akhirnya, proses yang seharusnya mempermudah justru menjadi sumber kecemasan baru.

Ini bukan soal malas belajar. Ini soal kurangnya jembatan antara sistem dan pengguna.

SPT Tahunan 2025: Ujian Nyata Coretax di Mata Wajib Pajak

Pelaporan SPT Tahunan selalu menjadi momen krusial. Di sinilah seluruh data, kewajiban, dan kepatuhan diuji. Dengan Coretax, tantangan itu berlipat ganda karena:

Ketika pemahaman belum matang, yang muncul bukan kepatuhan sukarela, melainkan ketakutan:
takut salah, takut diperiksa, takut dianggap tidak patuh.

Padahal, sistem yang baik seharusnya menumbuhkan rasa percaya diri, bukan rasa waswas.

Masukan Positif untuk Direktorat Jenderal Pajak

Sebagai wajib pajak, saya meyakini bahwa Direktorat Jenderal Pajak memiliki niat baik dan visi jangka panjang melalui Coretax. Oleh karena itu, izinkan kami memberikan masukan yang konstruktif dan positif.

Beberapa langkah yang menurut saya sangat membantu antara lain:

Dengan pendekatan seperti ini, Coretax tidak lagi dipersepsikan sebagai beban baru, melainkan sebagai alat bantu yang benar-benar memudahkan

Coretax Akan Berhasil Jika Dipahami, Bukan Ditakuti

Keberhasilan sistem perpajakan modern tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh seberapa jauh pengguna merasa dilibatkan dan dimampukan.

Wajib pajak pada dasarnya ingin patuh. Kami ingin melapor dengan benar. Kami ingin menjalankan kewajiban tanpa rasa takut. Coretax bisa menjadi jawabannya—asal proses adaptasinya dibangun bersama, bukan dipaksakan sepihak.

Ajakan untuk Pembaca

Jika Anda sesama wajib pajak yang juga sedang belajar memahami Coretax,
jika Anda mengalami kendala, kebingungan, atau justru memiliki pengalaman positif,
mari suarakan secara sehat dan konstruktif.

Tuliskan komentar Anda.
Sampaikan masukan Anda.

Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk membantu DJP menyempurnakan sistem ini. Karena Coretax yang baik bukan hanya milik negara, tetapi juga milik kita semua sebagai wajib pajak.

Exit mobile version